Selain itu, analis juga menilai harga minyak AS terkerek oleh kekhawatiran terjadinya Badai Topan Dorian yang semakin mendekati Florida. Hal itu berpotensi mendorong produsen mengurangi produksinya jika badai melewati Teluk Meksiko pada akhir pekan.
Dilansir dari Reuters, Jumat (30/8), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,93 atau 1,7 persen menjadi US$56,71 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data pemerintah AS mencatat persediaan minyak mentah AS merosot 10 juta barel pada pekan lalu, terendah sejak Oktober 2018. Hal itu terjadi seiring penurunan impor. Sementara itu, stok bensin dan minyak distilasi masing-masing turun lebih dari 2 juta barel.
Khusus di Cushing, hub pengiriman minyak utama AS, persediaannya pada pekan lalu turun hampir 2 juta barel, terendah sejak Desember 2018.
"Beberapa hal berubah secara drastis dalam 2 atau 3 bulan dan Anda akan memiliki jaringan pipa baru lagi yang akan terus mengubah perhitungan," ujar Analis Mizuho Robert Yawger di New York.
Lalu, penguatan juga terjadi pada harga Brent sebesar US$0,59 atau 0,98 persen menjadi US$61,08 per barel. Penguatan Brent tak lepas dari meredanya kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Pada Kamis (29/8) kemarin, Kementerian Perdagangan China menyatakan China-AS akan kembali bertemu untuk membahas perdagangan pada September 2019 mendatang. Namun, harapan akan terjadinya kemajuan pembahasan bergantung pada kemampuan AS menciptakan kondisi yang mendukung.
Namun, kenaikan harga minyak dunia tetap dibatasi oleh risiko pelemahan perekonomian global yang masih membayangi. Jika itu terjadi, permintaan terhadap minyak bakal menurun. (sfr/lav)