Anggota Komisi V DPR Bambang Haryo Soekartono mengatakan LRT Palembang memfasilitasi kelas menengah atas lantaran rute LRT menghubungkan rute Jakabaring Sport City ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, ketimbang menuju terminal maupun pelabuhan.
"Sekali lagi kami sangat keberatan, kalau misalnya LRT Palembang masih diberikan subsidi. Subisidi ini harus diberikan kepada yang memang membutuhkan," katanya, Selasa (3/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi usulan tersebut, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersikeras jika moda transportasi yang menelan investasi hingga Rp12,5 triliun tetap harus disubsidi. Alasannya, semua angkutan massal mendapatkan fasilitas subsidi.
"Tidak mungkin angkutan massa tidak mendapat subsidi," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]
Menhub menyebut meskipun banyak dimanfaatkan kelas menengah ke atas, namun kehadiran transportasi massal mampu mendorong masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi. Dengan demikian, persoalan macet bisa terurai.
"Transportasi massal juga memberikan manfaat kepada lingkungan," imbuhnya.
Kabar LRT Palembang sepi penumpang pernah berhembus di telinga khalayak. Usai gelaran Asian Games 2018, LRT Palembang hanya ramai saat akhir pekan.
Pada April 2019 lalu, Kepala Balai Teknik Perekeretaapian Wilayah Sumbagsel Sugianto mengungkapkan rata-rata tingkat keterisian (okupansi) hanya 22 persen dari kapasitasnya mencapai 27 ribu penumpang per hari.
Saat ini baru 5 dari 6 rangkaian kereta (trainset) yang dioperasikan karena belum seluruh konstruksi LRT rampung dibangun. Di sisi lain, waktu operasi LRT pun masih terbatas dari pukul 04.48-18.59 WIB.
"Waktu operasional bisa diperpanjang dari 04.00 sampai 22.20. Ini peningkatan okupansi berpengaruh besar," ujar dia beberapa waktu lalu. (ulf/agt)