Dilansir dari Reuters, Jumat (6/9), harga minyak mentah berjangka Brent menanjak US$0,25 menjadi US$60,95 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) dibanderol US$56,3 per barel atau meningkat tipis US$0,04.
Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat stok minyak mentah dan BBM AS pekan lalu kembali merosot, meskipun terjadi lonjakan impor. Ini berarti penurunan sudah terjadi selama tiga pekan berturut-turut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Kamis (5/9) kemarin, China dan AS sepakat melakukan negosiasi tingkat tinggi di Washington pada awal Oktober mendatang.
"Meski ada pengumuman mereka (AS-China) bakal memulai kembali pembicaraan perdagangan, masih ada ketidakpastian terkait permasalahan tersebut dan ketakutan perlambatan pertumbuhan permintaan yang pada dasarnya menahan harga pasar untuk lebih tinggi," imbuh VP Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian.
Namun, berdasarkan survei Reuters dan data Kementerian Energi Rusia, produksi minyak OPEC dan Rusia menanjak pada Agustus lalu.
Tekanan terhadap harga juga disinyalir berasal dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Hal itu memicu para analis untuk memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak.
Direktur Keuangan BP Brian Gilvary menyebut pertumbuhan permintaan minyak global tahun ini diperkirakan kurang dari 1 juta barel per hari (bph) seiring perlambatan konsumsi.
[Gambas:Video CNN] (sfr/bir)