Hal itu terungkap dalam materi paparan Bank Dunia yang beredar di publik. Materi paparan itu disebut telah dipresentasikan di depan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pertemuan 2 September 2019 lalu.
Dalam materi tersebut, Bank Dunia menyampaikan pemberian insentif fiskal tidak dapat menjawab segala persoalan yang menghambat ekspor manufaktur dan keterlibatan Indonesia di rantai pasok global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, menurut Bank Dunia, rendahnya ekspor dan keterlibatan Indonesia di rantai pasok dunia tidak hanya disebabkan oleh kurangnya insentif.
Persoalan pertama, impor input untuk barang ekspor memakan biaya dan waktu. Misalnya, dalam hal inspeksi sebelum pengiriman yang memerlukan laporan dari 2 surveyor di pelabuhan.
Kedua, ekspor Indonesia tidak kompetitif karena mayoritas input otomotif dikenakan tarif impor. Contohnya impor ban yang kena tarif 15 persen dan kabel pemantik sebesar 10 persen.
Ketiga, Indonesia tidak punya cukup SDM untuk mengisi posisi teknisi produksi, teknisi pemrosesan, manajer desain teknis, manajer perencanaan produksi, hingga manajer SDM.
Terakhir, restriksi investasi asing langsung membuat biaya logistik tinggi dan biaya listrik lebih mahal dan kurang bisa diandalkan dibandingkan negara tetangga.
Sebagai contoh, produsen di Kawasan Perdagangan Bebas seperti Batam dikecualikan dari prosedur impor untuk input barang ekspor. Dalam pelaksanaannya, menurut Bank Dunia, hal itu tidak terjadi.
Berikutnya, surat rekomendasi impor Kementerian Perindustrian seharusnya maksimal terbit 5 hari tapi, biasanya, membutuhkan waktu antara 3-6 bulan bahkan lebih lama.
Alih-alih insentif pajak, Bank Dunia menilai Indonesia perlu mengejutkan investor dengan reformasi nyata yang mampu menciptakan kredibilitas, kepastian, dan kepatuhan.
"Tidak hanya mengundang investor tetapi juga menyambut mereka," tutur Bank Dunia.
Kepastian mencerminkan konsistensi aturan yang tidak mudah berubah-ubah. Untuk itu, perlu ada kebijakan bahwa aturan pemerintah pusat tidak akan bisa diubah atau dibatalkan oleh diskresi oleh kementerian atau pemerintah daerah.
Kepatuhan mencerminkan ketaatan pada strategi atau kebijakan presiden. Menurut Bank Dunia, pemerintah gagal menciptakan kredibilitas dan kepastian karena kurang ambisi dan kepatuhan terhadap arahan presiden.
[Gambas:Video CNN] (sfr)