Dikutip dari Reuters, kinerja perdagangan Eropa menjadi biang keladi atas pelemahan pertumbuhan ekonomi tersebut.
Sisi ekspor ternyata tercatat stagnan setelah kuartal sebelumnya membukukan pertumbuhan 0,9 persen. Sementara itu, impor juga mengalami perlambatan dibanding kuartal I 2019. Walhasil, ekspor netto pada kuartal II justru memberi andil negatif 0,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Eropa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, permintaan manufaktur Jerman pada Juli juga tercatat menurun 2,7 persen atau melebar dibanding prediksi sebelumnya yakni 1,5 persen. Fakta ini kian mengindikasikan bahwa Jerman bisa terpapar risiko resesi di kuartal III tahun ini.
Di sisi lain Italia, yang merupakan ekonomi terbesar ketiga Eropa, menghadapi pertumbuhan ekonomi yang berhenti setelah sebelumnya hanya mengalami ekspansi 0,1 persen pada kuartal pertama.
Meski tidak terlibat secara langsung di dalam perang dagang, Uni Eropa pun harus ikut menjadi korban. Perusahaan Eropa merasa kesulitan berproduksi di China atau memasok mesin ke pabrik di negara tirai bambu tersebut. Tak hanya itu, AS juga berulang kali mengancam sanksi perdagangan baru terhadap perusahaan Uni Eropa setelah memberlakukan tarif impor bagi baja dan aluminium di tahun lalu.
[Gambas:Video CNN] (glh)