Pagi hari ini, sebagian besar mata uang Asia melemah terhadap dolar AS. Dolar Singapura melemah 0,01 persen, dolar Hong Kong melemah 0,02 persen, yen Jepang melemah 0,04 persen, dan baht Thailand melemah 0,09 persen. Di sisi lain, hanya won Korea Selatan yang menguat terhadap dolar AS sebesar 0,24 persen.
Nilai tukar mata uang negara maju juga melemah terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,07 persen, euro melemah 0,11 persen, dan dolar Australia melemah 0,13 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau data ketenagakerjaan Jumat malam melebihi ekspektasi, rally rupiah bisa saja tertahan," jelas Deddy kepada CNNIndonesia.com, Senin (9/9).
Kemudian, rupiah juga mendapat angin segar dari pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell di Zurich pada Jumat (6/9) waktu setempat. Powell mengatakan bahwa The Fed kemungkinan masih akan melonggarkan kebijakan suku bunga acuannya agar tidak mau kehilangan momentum inflasi.
[Gambas:Video CNN]
Terakhir, penguatan rupiah juga ditopang dari sisi domestik, utamanya dari data cadangan devisa di angka US$126,4 miliar, atau yang tertinggi sejak Februari 2018.
"Mengingat data ketenagakerjaan ini di bawah ekspektasi pasar dan narasi The Fed seperti ini, bukan tidak mungkin penguatan rupiah mencapai kisaran Rp14.000 atau bahkan ke Rp13.900 per dolar AS. Tapi beberapa kondisi tetap perlu dicermati, seperti rapat The Fed tanggal 18 nanti," tutur dia. (glh/agt)