Alasannya, pemerintah sudah cukup serius membina kerja sama dengan Jepang melalui Badan Kerjasama Internasional Jepang (Japan International Cooperation Agency/JICA).
Saat ini, kata Luhut, JICA tengah melakukan studi kelayakan proyek tersebut dengan kurun waktu pengerjaan sekitar dua tahun. Sebelum studi selesai, pemerintah berencana menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Jepang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, Luhut ingin ketika Jepang benar-benar terpilih dalam pengerjaan proyek kereta cepat, Negeri Samurai itu juga memperhatikan betul prinsip kerja sama dengan Indonesia. Salah satunya terkait penggunaan komponen bahan baku dari dalam negeri.
Selain itu, ia minta Jepang juga tak sungkan membagi teknologinya kepada Indonesia. Sebab, hal ini bertujuan untuk pengembangan teknologi di dalam negeri pula.
Sebelumnya, Luhut sempat mengatakan bahwa perusahaan kereta api asal China, China Railways Construction Corporation (CRCC) berminat ikut kembali dalam pembangunan kereta cepat di Indonesia. Klaim itu disampaikan Luhut usai bertemu dengan perwakilan CRCC di kantornya, pekan lalu.
Sebagai informasi, kereta semi cepat Jakarta-Surabaya ditargetkan bisa melaju dengan kecepatan rata-rata 145 kilometer per jam. Dengan kecepatan tersebut diharapkan jarak tempuh antar kedua kota besar itu bisa ditempuh hanya dalam waktu 5 jam 30 menit.
[Gambas:Video CNN]
Catatan redaksi: Judul berita ini diubah pada Senin (9/9) pukul 20.25 WIB dari sebelumnya berjudul: "RI 'Tutup Pintu' bagi China di Proyek Kereta Jakarta-Surabaya". (uli/lav)