"Tantangan-tantangan ini mungkin akan menekan permintaan kredit perbankan nasional. Pada saat yang bersamaan bank-bank nasional pun akan lebih selektif," ungkap Direktur Keuangan Panji Irawan, Senin (9/9).
Tantangan global yang dimaksud yakni, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang juga belum memperoleh titik temu. Ditambah lagi, harga komoditas yang terus melemah beberapa waktu terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama terjadi pada harga batu bara. Panji menyatakan harganya saat ini turun ke level US$65 per ton. Sementara, pada 2017 lalu harganya di level US$100 per ton dan 2018 sebesar US$88,3 per ton.
Walaupun demikian, Panji masih optimistis dengan beberapa sektor yang dipandangnya masih prospektif dan mendorong kinerja perusahaan. Beberapa sektor yang dimaksud, yakni jasa kesehatan, farmasi, pendidikan, ekonomi kreatif, dan pariwisata.
Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan nasional di level 22,6 persen per Juni 2019. Sementara, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) turun tipis dari 2,67 persen menjadi 2,5 persen.
Dari sisi kinerja Bank Mandiri, penyaluran kredit perusahaan per semester I 2019 sebesar Rp820 triliun atau naik 9,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp13,53 triliun atau naik 11,1 persen dari sebelumnya Rp12,17 triliun.
[Gambas:Video CNN] (aud/lav)