Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman mengungkapkan pelaku usaha susah berproduksi karena garam industri yang menjadi bahan baku sudah menipis. Meski terseok-seok, namun Adhi menyebut beberapa industri makanan minuman masih bisa bertahan hidup dengan sisa bahan baku yang tersedia ada.
"Pengusaha makanan dan minuman sebagian kritis tapi masih jalan. Semoga ada keputusan (impor) cepat," jelas Adhi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (10/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kebanyakan dari stok yang ada sekarang di dalam negeri itu kadar airnya tinggi, kami butuh yang 0,5 persen," tuturnya.
Kendati demikian, ia sudah mendengar informasi bahwa usulan mengenai tambahan impor garam industri sudah masuk tahap final di pemerintah. Seharusnya, Kementerian Perdagangan akan memutuskannya dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Direktur Industri Kimia Hulu dari Direktorat Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian Fridy Juwono mengatakan pemerintah masih berdiskusi dengan Kemendag terkait permintaan tambahan impor garam industri dari Gapmmi. Ia berharap, kepastian mengenai impor garam untuk industri makanan minuman bisa terbit bulan ini.
"Kami masih membahas dengan Kemendag tentang tambahan impor garam untuk bahan baku anggota Gapmmi," ungkap Fridy.
Pada tahun ini, pemerintah memberikan kuota impor garam industri sebesar 2,7 juta ton, di mana realisasinya sudah mencapai 1,54 juta ton atau 57,03 persen hingga semester I lalu. Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) mengatakan stok garam impor per akhir Agustus mencapai 77 ribu ton yang seharusnya habis pada bulan ini.
[Gambas:Video CNN] (glh)