Pada 1976, ia mendirikan PT Indonesia Pesawat Terbang Nurtanio, satu-satunya pabrik pesawat di Asia Tenggara kala itu. Pabrik itu kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 1985, hingga akhirnya kini dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia.
Pengamat aviasi AIAC Aviation Arista Atmadjati mengungkapkan, melalui pabrikan pesawat itu, Habibie menjadi pionir era teknologi industri penerbangan modern di Indonesia. Jenis mesin yang digunakan adalah turbo propeller.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena keandalannya, di era 90-an, Indonesia sudah mengekspor pesawat buatan Habibie ke sejumlah negara yaitu Qatar, Kuwait, Korea Selatan, Pakistan, Thailand, dan Filipina.
"Bahkan, Amerika pernah membeli," jelasnya.
Arista menyayangkan industri penerbangan yang dirintis Habibie sempat terkena pukulan di era krisis moneter 1997-1998. Saat itu, pemerintah harus menutup IPTN karena dianggap sebagai industri mercusuar oleh Dana Moneter Internasional (IMF).
"Salah satu syarat IMF mau memberikan bantuan adalah Indonesia harus menghentikan proyek mercusuar, salah satunya industri pesawat terbang, harus diberhentikan," katanya.
Dengan dukungan dari pemerintah, perusahaan tengah menjajaki untuk memproduksi pesawat jenis C295 dan N219. Tak hanya itu, perusahaan juga bekerja sama dengan Korea Selatan untuk mengembangkan jet tempur generasi 4,5 yang dirancang dengan mengadopsi teknik geometri pesawat siluman KFX/IFX.
[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)