Usai Nikel, Luhut Buka Opsi Larang Ekspor Mineral Lain

CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 16:54 WIB
Usai Nikel, Luhut Buka Opsi Larang Ekspor Mineral Lain Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Panjaitan. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah membuka opsi mempercepat pelarangan ekspor mineral mentah selain nikel dalam waktu mendatang. Hal itu bergantung dari minat investor untuk membangun perusahaan di sektor hilirisasi mineral mentah di Indonesia.

"Kalau sudah ada investor-investor yang masuk untuk hilirisasi di timah, aspal, alumunium, dan bauksit, kenapa tidak (untuk mempercepat larangan ekspor)?, kata Luhut, Kamis (12/9).

Diketahui, pemerintah akan mulai melarang ekspor nikel mulai Januari 2020. Sementara, larangan ekspor bauksit berlaku pada Januari 2022 mendatang. Namun, Luhut tak bisa memperkirakan kapan pastinya larangan bauksit dan alumunium akan dipercepat. "Ya kami lihat, kami pelajari dengan cermat," imbuhnya.


Luhut menyatakan lebih baik mineral mentah diolah di dalam negeri untuk mendapatkan nilai tambah. Dengan demikian, nilai ekspornya bisa lebih tinggi dari sebelumnya.

"Seperti yang saya bilang ya, selama ini kan kami ekspor misalnya untuk nikel 98 persen tuh ke China. Sekarang kenapa tidak dibuat di dalam negeri," paparnya.

Pemerintah baru saja mendapatkan tambahan komitmen investasi hilirisasi nikel sebesar US$20 miliar atau Rp406 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat) hingga 2024 mendatang. Selain itu, pemerintah juga sedang melakukan pendekatan dengan sejumlah investor yang akan berinvestasi di hilirasi bauksit dan alumunium.

"Belum tahu nilai (investasinya). Angkanya pasti miliaran dolar AS, pasti dua digit miliaran dolar AS," ujar dia. (aud/lav)