Pelemahan harga juga terjadi setelah pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya tidak menghasilkan keputusan untuk memperbesar pemangkasan produksi minyak mentah.
Dilansir dari Reuters, Jumat (13/9), harga minyak mentah Brent berjangka tergelincir US$0,43 atau 0,71 persen menjadi US$60,38 per barel. Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,66 atau 1,18 persen menjadi US$55,09 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga minyak juga tertekan setelah muncul komentar Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Sald yang menyatakan keputusan pemangkasan produksi yang lebih besar tidak akan diputuskan sebelum pertemuan OPEC Desember mendatang.
Rapat Komite Pengawas Pasar OPEC dan sekutunya pada Kamis (12/9) kemarin menghasilkan kesepakatan untuk menjaga produksi sesuai kuota yang telah disepakati dalam kesepakatan pemangkasan produksi. OPEC dan sekutunya menyatakan stok minyak di negara industri tetap di atas rata-rara 5 tahunan.
[Gambas:Video CNN]
Menteri Energi Oman Mohammed bin Hamad al-Rumhy menyatakan "Proyeksi tidak begitu baik untuk 2020." Pangeran Abdulaziz menyatakan Arab Saudi akan tetap memangkas lebih besar dari komitmennya dalam kesepakatan OPEC+.
Sebagai catatan, OPEC+ menyepakati pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph). Turut menambah sentimen yang menekan harga, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan kenaikan produksi minyak AS akan membuat upaya menyeimbangkan pasar menakutkan pada 2020.
"Meledaknya produksi minyak shale membuat AS mendekati, dan melampaui sebentar, Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar dunia di Juni, setelah ekspor minyak mentah melesat di atas 3 juta bph," ujar IEA dalam laporan bulanannya.
Lebih lanjut, IEA juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun ini dan tahun depan, masing-masing sebesar 1,1 juta bph dan 1,3 juta bph.