Mengutip AFP, output industri tercatat naik sebesar 4,4 persen sepanjang Agustus 2019. Meskipun masih naik, angka pertumbuhan itu ternyata buruk.
Pasalnya, pertumbuhan tersebut merupakan yang terburuk dalam 17 tahun terakhir dan turun dibandingkan Juli 2019 yang sebesar 4,8 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain output industri, penjualan ritel juga melambat hanya 7,5 persen. Angkanya lebih rendah 0,1 persen dibandingkan dengan posisi Juli 2019 yang sebesar 7,6 persen.
Sementara, investasi aset tetap (fixed-asset) tercatat meningkat 5,5 persen. Pertumbuhannya melambat 0,2 persen dari bulan sebelumnya. Perlambatan juga terjadi pada investasi di sektor perumahan.
"Sangat sulit bagi China untuk mempertahankan pertumbuhan 6 persen atau lebih," tutur Perdana Menteri China Li Keqiang dalam sebuah wawancara dengan media Rusia.
Bank Rakyat China pun berencana memangkas jumlah pinjaman tunai yang akan dikucurkan untuk disimpan sebagai cadangan. Hal ini dilakukan di tengah perlambatan ekonomi China.
"Dengan kebangkitan yang tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat, kami mengantisipasi bahwa pembuat kebijakan akan melonggarkan kondisi moneter lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang," ucap Ekonom China di Capital Economics Martin Lynge Rasmussen.[Gambas:Video CNN] (afp/aud)