Kesembilan bendungan tersebut antara lain, Bendungan Mbay di Nusa Tenggara Timur (NTT), Jenelata di Sulawesi Selatan, Pelosika dan Ameroro di Sulawesi Tenggara, Jragung di Jawa Tengah, Riam Kiwa di Kalimantan Selatan, Tiro di Aceh, Budong-budong di Sulawesi Barat, dan Tiu Suntuk di Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Keberadaan bendungan sebagai upaya pengelolaan sumber daya air dan irigasi guna mendukung produksi pertanian yang berkelanjutan," ujar Menteri PUPR Basuki Hadimuljono seperti dikutip Antara, Rabu (18/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bendungan Jragung memiliki volume total 129 juta meter kubik, irigasi pertanian seluas 6.435 hektare. Manfaat lainnya yaitu menjadi sumber air baku sebesar dua meter kubik per detik dan sumber energi listrik 0,04 megawatt.
Bendungan Riam Kiwa bervolume 110.57 juta meter kubik dan dapat mengairi 1.700 hektare sawah irigasi serta mereduksi banjir 797 meter kubik per detik. Bendungan memenuhi kebutuhan air baku satu meter kubik per detik dan potensi energi listrik 15 megawatt.
Bendungan Budong-budong bervolume 65,18 juta meter kubik, mengairi 3.500 hektare sawah, menghasilkan listrik antara 0,6-1,63 megawatt dan sumber air baku sebesar 0,41 meter kubik per detik.
Bendungan Ameroro memiliki volume 55,12 juta meter kubik dan dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah irigasi seluar 3.363 hektare, reduksi banjir 584 meter kubik per detik, dan sumber air baku sebesar 0,511 meter kubik per detik.
Terakhir, Bendungan Tiu Suntuk memiliki volume 55,9 juta meter kubik ini dapat mengairi 1.743 hektare lahan sawah, sumber air baku sebesar 0,068 meter kubik per detik, dan menghasilkan listrik 0,646 meter megawatt.
[Gambas:Video CNN] (antara/lav)