Direksi Dirombak, Buruh Sriwijaya Air Cemaskan Kesejahteraan

CNN Indonesia | Sabtu, 21/09/2019 17:30 WIB
Direksi Dirombak, Buruh Sriwijaya Air Cemaskan Kesejahteraan Serikat Pekerja Sriwijaya Air berunjuk rasa di depan Kantor Kemenaker menuntut manajemen mematuhi dan menjalankan kerja sama manajemen dengan Garuda Indonesia Group. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karyawan PT Sriwijaya Air mengaku resah dengan kondisi keuangan perusahaan pasca perombakan direksi oleh pemegang saham beberapa waktu lalu. Masalahnya, perubahan jajaran direksi ini mempengaruhi kelanjutan kerja sama manajemen (KSM) dengan PT Citilink Indonesia, anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

VP Human Capital Sriwijaya Air Agus Setiawan mengatakan KSM Sriwijaya Air dengan Citilink Indonesia sejatinya telah membawa angin segar bagi segenap karyawan Sriwijaya Air. Gaji karyawan Sriwijaya Air langsung naik setelah perusahaan meneken kerja sama dengan Citilink Indonesia.

"Saya bisa pastikan karyawan senang, Sriwijaya Air ini gaji dua tahun tidak naik, 2017 dan 2018. Begitu perusahaan diambil alih versi KSM kami langsung ada penyesuaian gaji dua kali," ucap Agus di Tangerang, Jumat (20/9).


Selain itu, perhitungan gaji karyawan Sriwijaya Air juga diklaim lebih rapi dibandingkan sebelumnya. Selain itu, asuransi kesehatan yang diberikan tak lagi bersifat pengembalian (reimburse), melainkan menggunakan kartu.


"Lalu juga asuransinya menggunakan keluarga, kalau dulu hanya pejabat struktural yang dapat. Kalau sekarang semua karyawan tetap dapat," katanya.

Selain itu, karyawan juga diberikan tunjangan tengah tahun atau setara dengan satu bulan gaji pasca kerja sama dengan Citilink Indonesia. Makanya, sambung Agus, karyawan berharap KSM dengan anak usaha perusahaan penerbangan pelat merah itu tak kandas di tengah jalan.

"Karyawan jadi menghormati KSM ini, kami ini dimanusiakan, dianggap aset," imbuh Agus.

Sementara, direksi yang dirombak beberapa waktu lalu adalah tiga perwakilan dari Garuda Indonesia yang ditempatkan di Sriwijaya Air untuk membantu permasalahan keuangan perusahaan. Mereka adalah Joseph Andriaan Saul sebagai Direktur Utama, Harkandri M. Dahler yang menjabat Direktur Sumber Daya Manusia dan Layanan, dan Joseph K. Tendean selaku Direktur Komersial.

[Gambas:Video CNN]

Dalam surat yang didapatkan CNNIndonesia.com, perubahan direksi yang dilakukan secara tiba-tiba oleh pemegang saham ini diprotes oleh Citilink Indonesia, selaku pihak yang diajak kerja sama oleh Sriwijaya Air. Dalam surat yang ditandatangani oleh Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo, menyatakan bahwa pemegang saham dan komisaris Sriwijaya Air seharusnya berkoordinasi dengan manajemen.

Persoalannya, Citilink Indonesia saat ini masih menjalin kerja sama (KSM) dengan Sriwijaya Air. Kerja sama dilakukan dalam rangka penyelesaian utang kepada sejumlah perusahaan pelat merah, seperti PT GMF AeroAsia Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Pertamina (Persero).

"Dalam pasal 5 perjanjian KSM yang mengatur hak dan kewajiban Citilink untuk melalukan seleksi atas pengurus Sriwijaya dan anak Sriwijaya," ucap Juliandra dalam surat tersebut.

Setelah 'ribut-ribut' soal perombakan direksi, Agus menyatakan ada pengurangan jumlah pesawat yang disewa oleh perusahaan dari 27 unit menjadi hanya 17 unit. Alhasil, frekuensi penerbangan pun terdampak.


Oleh karena itu, karyawan resah kinerja keuangan perusahaan kembali memburuk seperti sebelum KSM dengan Citilink Indonesia terjadi. Terlebih, Sriwijaya Air kini harus membayar di depan jika ingin membeli avtur di PT Pertamina (Persero) atau menggunakan layanan perawatan di PT GMF AeroAsia.

"Kalau dulu berhutang boleh karena saudara kan gara-gara KSM. Sekarang bayar di depan, kalau ada uang jadi baru dikasih," katanya.

Keresahan ini sudah diutarakan juga oleh puluhan karyawan Sriwijaya Air kepada Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Perhubungan, dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Rabu (18/9) kemarin.

"Kemarin dari Kementerian Ketenagakerjaan hasilnya positif, saya dibilang bagus karena lapor cepat," jelas Agus.

Hanya saja, memang belum ada perbaikan yang signifikan di manajemen Sriwijaya Air pasca pelaporan sejumlah kementerian dan DPR beberapa waktu lalu.


Jabatan Turun

Lebih lanjut Agus menyatakan jabatannya diturunkan usai menyuarakan kekhawatirannya ke publik. Ia dipanggil oleh direksi yang dipilih oleh pemegang saham dan komisaris Sriwijaya Air.

Diketahui, pemegang saham dan komisaris Sriwijaya Air memilih Anthony Raimond Tampubolon sebagai Plt Direktur Utama dan Robert D. Waloni berperan sebagai Plh Direktur Utama.

"Saya kan di sini sudah 16 tahun, saya juga punya pengaruh ke teman-teman," kata dia.

Kendati begitu, ia menolak penurunan jabatan tersebut. Agus mengklaim keputusan dari Plt terbilang tidak sah.

"Tapi sekarang ada VP Human Capital pilihan pemegang saham, tapi saya juga masih VP. Tim saya solid kok sama saya," ucap Agus.

Selain Agus, Retri Maya juga diturunkan jabatannya dari Vice President Corporate Secretary Sriwijaya Air sebagai staff biasa. Namun, sama seperti Agus, ia juga menolak perubahan jabatan itu.

"Iya (diturunkan jabatan)," ucap Retri singkat setelah dikonfirmasi melalui Whatsapp.

CNNIndonesia.com telah mencoba mengkonfirmasi seluruh kekhawatiran karyawan dan penurunan jabatan kepada beberapa karyawan yang dilakukan oleh direksi pilihan komisaris dan pemegang saham Sriwijaya Air kepada Wakil Komisaris Sriwijaya Air Chandra Lie. Namun, yang bersangkutan tak memberikan respons hingga berita ini diturunkan.

(aud/agt)