Sekretaris Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Provinsi Sumsel Nur Ahmadi mengatakan umumnya pabrik-pabrik karet memberlakukan tiga shift kerja masing-masing delapan jam dalam satu hari.
Kini, pabrik-pabrik itu hanya memberlakukan satu-dua shift per hari karena volume bahan baku susut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karenanya, ia berharap pemerintah dapat menempuh langkah konkret untuk mengatasi persoalan harga murah yang sudah terjadi sejak 2013 silam.
Pada tahun ini, harga rata-rata karet masih di bawah standar, yaitu US$1,3 fob/kilogram. Di tingkat petani, harganya cuma Rp5.000-Rp7.000 per kg, dan di kelompok petani Rp8.000-Rp9.000 per kg.
[Gambas:Video CNN]
Ekspor Turun
Sampai Mei 2019, ekspor karet dari Sumsel turun 22 persen. Penurunan produksinya sendiri mencapai 40 persen menjadi 583 ribu ton per kuartal I 2019. Kontras dengan periode 2017-2018, di mana produksi karet setiap kuartal masih berkisar 971 ribu ton.
"Artinya, dengan pengurangan jam kerja ini, muncul pengangguran yang tidak kentara. Lambat laun pasti akan berpengaruh pada perekonomian," terang Nur Ahmadi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumsel Yunita Sari menuturkan persoalan karet menjadi konsentrasi semua pihak, baik di daerah maupun pemerintahan pusat.
Sembari merealisasikan hilirisasi karet, sambung Yunita, pemerintah akan membenahi tata niaga karet, mengingat terjadi ketidakadilan dalam pembagian keuntungan antara sisi hulu (petani) dan sisi hilir. (antara/bir)