Tak hanya itu, ADB juga menyeret proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 dari 5,3 persen menjadi 5,2 persen. Proyeksi tersebut lebih rendah dari target Anggaran Pertumbuhan dan Belanja Negara (APBN) 2020 yang dipatok 5,3 persen.
"Diperlukan investasi yang lebih kuat untuk mendorong pertumbuhan dengan fokus pada daya saing dan pengembangan sumber daya manusia sebagai kuncinya," ujar Direktur ADB untuk Indonesia Winfried Wicklein dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (25/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, defisit transaksi berjalan tahun ini diperkirakan terkendali di level 2,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) meski terjadi pelemahan pertumbuhan di antara mitra perdagangan.
Jelang akhir tahun, ia memperkirakan investasi akan terus membaik seiring kemajuan pembangunan proyek-proyek strategis nasional untuk meningkatkan jaringan infrastruktur.
Sektor jasa juga diperkirakan akan menjaga pertumbuhan tetap tinggi, didorong oleh populasi kaum muda yang terus melaju sehingga meningkatkan penggunaan jasa online. Di sektor industri, konstruksi kemungkinan akan diuntungkan oleh pembangunan properti perkotaan.
Komitmen pemerintah untuk mengadopsi teknologi baru juga akan meningkatkan kemampuan manufaktur dan membawa peningkatan daya saing dalam jangka menengah.
[Gambas:Video CNN]
Tahun depan, ia memperkirakan investasi swasta akan terus membaik seiring dengan ekspektasi berbagai kebijakan reformasi baru untuk meningkatkan iklim usaha dan mempercepat modernisasi ekonomi.
Kendati demikian, Indonesia masih perlu mengawasi risiko eksternal yang masih membayangi perekonomian Indonesia di antaranya ketegangan perdagangan global dan melemahnya momentum perdagangan.
Lebih lanjut, melemahnya investasi juga perlu menjadi perhatian dan Indonesia harus tetap melanjutkan langkah-langkah reformasi guna mendiversifikasi perekonomiannya dan bersiap meraih peluang terkait perubahan rantai pasokan global.