Pada perdagangan Senin (23/9), tercatat IHSG ditutup di level 6.206 turun 25,27 poin atau 0,41 persen. IHSG kembali turun cukup dalam sampai dengan 68,59 poin atau 1,11 persen ke level 6.137 pada Selasa (24/9).
RTI Infokom mencatat, investor membukukan transaksi sebesar Rp7,95 triliun dengan volume 16,99 miliar saham pada Rabu (25/9). Meski IHSG menguat, pelaku pasar asing tercatat jual bersih atau net sell di seluruh pasar sebesar Rp788,70 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diketahui, suhu politik di dalam negeri memang tengah menghangat. Kondisi terjadi akibat aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat dan mahasiswa di beberapa kota di Indonesia menolak rencana pengesahan revisi Rancangan Undang-undang (RUU) KUHP dan sejumlah uu lainnya.
Unjuk rasa juga dilakukan untuk menentang pengesahan revisi UU KPK yang mereka anggap melemahkan komisi antirasuah tersebut.
[Gambas:Video CNN]
Ia berharap kondisi politik kembali stabil, sehingga mengembalikan minat investor ke pasar. Ia yakin harapan tersebut bisa terpenuhi.
Pasalnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meminta DPR menunda pengesahan empat RUU pada periode ini, termasuk RUU KUHP. Laksono meyakini kesepakatan itu mampu mengembalikan kondisi pasar.
"Diharapkan dalam beberapa hari ini kondisinya bisa lebih normal. Dalam arti sentimen politik, kalau tidak berkelanjutan, IHSG bisa balik lagi ke posisi yang lebih fundamental," tuturnya.
Laksono mengatakan kondisi itu menimbulkan ketidakpastian di pasar. "Ketidakpastian itu kebanyakan secara efek tidak terlalu positif buat pasar ekuitas. Hanya saja, yang terjadi di Indonesia dalam tiga hari ini lebih kepada situasi domestik," tuturnya.
Untuk itu, ia berharap terdapat aksi korporasi yang menarik minat investor sehingga bisa memberikan stimulus positif kepada pasar.