Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan bahwa penawaran harga tersebut akan dievaluasi oleh instansinya. Kemudian, hasil evaluasi tersebut akan diberikan kepada Kementerian Keuangan dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaku instansi yang berwenang menggunakan uang negara dalam menyerap divestasi tersebut.
Hanya saja, ia tak menyebut angka penawaran yang dimaksud. Ia pun tak menjelaskan tanggal surat yang dikirimkan ke perusahaan tambang nikel tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau memang divestasi tidak selesai sekarang, nantinya bisa di-carry forward ke tahun berikutnya. Sama kasusnya dengan divestasi Newmont sebesar 7,5 persen itu, di-carry over ke tahun berikutnya dan tahu-tahu kan sudah dibeli oleh Medco," katanya.
Meski demikian, ia berharap hasil evaluasi dari Kemenkeu dan Kementerian BUMN bisa selesai secepatnya. "Semoga begitu," pungkas Bambang.
[Gambas:Video CNN]
Sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba), perusahaan wajib mendivestasikan 40 persen sahamnya secara bertahap.
Namun, mengacu pada amandemen kontrak karya pada 2014 lalu, emiten berkode INCO ini telah menjual 20 persen sahamnya lebih dulu pada era 90-an melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Sehingga, perusahaan masih memiliki kewajiban melepas sisa 20 persen sahamnya pada Oktober nanti.
Terkait divestasi tersebut, sebelumnya Direktur Utama induk usaha PT Vale Indonesia Tbk, Vale SA Eduardo Bartolomeo telah bertemu Presiden Joko Widodo pada Senin (23/9) lalu. Di dalam pertemuan itu, Jokowi berjanji akan mempermudah proses divestasi Vale.