"Karena surat ini tidak direspons dan tetap melanjutkan penerbangan secara normal, kami berdua mengundurkan diri untuk menghindari konflik kepentingan," ujar Fadjar, dalam konferensi pers, Senin (30/9).
Ia mengklaim telah menyampaikan surat rekomendasi untuk penghentian sementara operasional Sriwijaya Air karena dinilai tidak layak, baik dari sisi operasional, teknis, maupun finansial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perlu kami sampaikan, kami peduli keselamatan. Laporan terkini sejak putus dengan GMF, Sriwijaya kondisi suku cadang saja tidak ada, hanya oli saja. Ban terseok-seok," katanya.
Tidak cuma itu, tenaga kerja teknisi juga terbatas. Ia merinci tiga teknisi dan dua mekanik digenjot untuk bekerja selama 12 jam. Padahal, untuk merilis pesawat layak terbang, mereka perlu beristirahat.
Sebelumnya beredar surat rekomendasi agar operasional Sriwijaya Air Group dihentikan sementara. Surat itu berasal dari Direktur Quality, Safety, dan Security Sriwijaya Air Toto Subandoro kepada Plt Dirut Jefferson.
Dalam surat nomor 096/DV/1NT/SJY/1X/2019 tertanggal 29 September 2019, Toto bilang rekomendasi diputuskan usai Direktorat Kelaikanudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menemukan ketidaksesuaian pada laporan yang disampaikan perusahaan per 24 September 2019.
Temuan yang dimaksud adalah ketersediaan tools, equipment, minimum suku cadang, dan jumlah tenaga teknisi berkualifikasi yang ada di perusahaan, ternyata tidak sesuai dengan laporan yang tertulis dalam kesepakatan yang dilaporkan kepada Dirjen Perhubungan Udara dan Menteri Perhubungan.
Artinya, risk index masih berada di zona merah 4A (tidak dapat diterima dalam situasi yang ada) atau bisa dianggap bahwa Sriwijaya Air kurang serius terhadap keselamatan penerbangan.
"Sehubungan dengan hal tersebut di atas, kami merekomendasikan Sriwijaya Air menyatakan berhenti operasi atas inisiatif sendiri atau melakukan pengurangan operasional disesuaikan dengan kemampuan untuk beberapa hari ke depan, karena alasan memprioritaskan keselamatan. Hal ini akan menjadi nilai lebih bagi perusahaan yang benar-benar menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama," tulis Toto.
Ketika dihubungi melalui pesan instan WhatsApp, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti tidak menjawab pertanyaan CNNIndonesia.com.
[Gambas:Video CNN] (aud/bir)