Kerusuhan di Wamena bermula dari tawuran antarpelajar di Jalan Yos Sudarso. Namun, kerusuhan terus membesar hingga akhirnya memaksa warga untuk mengamankan diri ke kota lain.
Tak hanya itu, kerusuhan juga membuat masyarakat sulit mendapatkan kebutuhan sehari-sehari. Kalaupun ada, harganya selangit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini rentan membuat industri langsung berhenti di tengah jalan, apalagi ketika warga sudah mulai mengungsi ke kota lain," ucap Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/9).
Untuk itu, menurutnya, pemerintah perlu segera mengamankan Wamena dari berbagai kerusuhan yang menimbulkan rasa takut dari pelaku ekonomi daerah tersebut.
"Toh, kontribusi Papua terhadap PDB (Produk Domestik Bruto/pertumbuhan ekonomi) tidak sampai 2 persen, kecuali kalau Jawa yang bergejolak, dia (kontribusinya) sampai 58 persen," tuturnya.
Kendati dampak kerugian ekonomi dari kerusuhan Wamena di atas kertas tidak besar, Faisal menggarisbawahi kerusuhan tetap harus menjadi perhatian pemerintah. Sebab, dampaknya sudah terasa secara regional.
Berdasarkan catatannya, pertumbuhan ekonomi Papua dan Maluku memang tengah melambat sekitar 11,8 persen sepanjang paruh pertama tahun ini. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi bakal kian seret bila kerusuhan tak juga usai.
Oleh karena itu, sambung dia, pemerintah perlu segera menindaklanjuti kerusuhan di Wamena agar tidak menimbulkan potensi dampak kerugian ekonomi yang lebih besar di kemudian hari. Selain itu, pemerintah juga perlu merancang ulang pemenuhan kebutuhan pembangunan di Papua.
Pemerintah memang kerap mengklaim sudah membangun Papua. Sayangnya, menurut Faisal, pendekatan yang dilakukan seringkali tidak tepat sasaran. Hal ini membuat pembangunan masih minim dampaknya bagi kemajuan provinsi tersebut.
"Dana pembangunan yang dikasih ke Papua bisa jadi mismatch, orang Papua butuh menu yang beda dibandingkan orang Jawa. Jadi menunya harus cocok, petakan lagi infrastruktur apa yang cocok di Papua," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (sfr)