Seperti diungkapkan sebelumnya, ada temuan ramp check yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub terhadap Sriwijaya Air, antara lain ketersediaan perlengkapan, minimum spare part dan jumlah qualified engineer yang ada tidak sesuai dengan laporan yang tertulis.
Tidak cuma itu, Sriwijaya Air bahkan disebut belum berhasil melakukan kerja sama dengan JAS Engineering atau Maintenance Repair and Overhaul (MRO) untuk mendapatkan dukungan perawatan pesawat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah yang dimaksud ialah berupa ketidaklaikan operasi penerbangan dari sejumlah pesawat Sriwijaya Air.
Diketahui, saat ini hanya ada 12 pesawat dari total 30 pesawat perusahaan yang laik terbang. Ini terjadi karena ada kekurangan suku cadang (spare part) dan lainnya.
"Kami beri lima hari, mudah-mudahan ada jalan keluar. Kalau tidak, kami akan setop, per tanggal 2 Oktober 2019 pukul 00.00 WIB akan kami setop," ujar Avirianto kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/9).
Lebih lanjut, menurutnya, Kemenhub sejatinya terus memeriksa kelaikan operasi terbang maskapai secara berkala setiap harinya. Sejauh ini, sambungnya, memang ditemukan ketidaksiapan operasi untuk 18 pesawat.
Maka itu, Kemenhub sudah memberi status larangan terbang bagi 18 pesawat tersebut. "Sampai saat ini, kami terus periksa, jumlahnya sudah menurun. Tapi kami periksa terus," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN]
Tak hanya persoalan kelaikan operasi terbang, perusahaan rupanya juga memiliki masalah di tingkat direksi. Dua direktur Sriwijaya Air, yaitu Direktur Operasi Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Ramdani Ardali Adang baru saja mengundurkan diri dari jabatannya.
Keduanya mundur karena surat permohonan untuk menghentikan operasional sementara Sriwijaya Air Group tak direspons dewan direksi, termasuk Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I Jauwena.
"Sebenarnya pengunduran diri ini sepihak, jadi belum kami terima, belum dikonfirmasi, belum ada keputusan. Kalau belum ada surat ke Kemenhub, direksi yang aktif seharusnya masih yang lama," terang dia. (bir)