Pagi hari ini, mayoritas mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong menguat 0,02 persen, baht Thailand menguat 0,05 persen, yen Jepang menguat 0,06 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,13 persen.
Di kawasan Asia, hanya won Korea Selatan yang melemah terhadap dolar AS yakni sebesar 0,24 persen. Mata uang negara maju seperti poundsterling Inggris melemah 0,05 persen terhadap dolar AS, namun euro menguat 0,08 persen dan dolar Australia menguat 0,09 persen terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Data Inflasi Diramalkan Tekan IHSG |
Hanya saja, indeks manufaktur AS ternyata terjun ke level terendah dalam 10 tahun terakhir. Institute for Supply Management mengatakan bahwa indeks aktivitas manufaktur AS turun ke angka 47,8 pada September. Padahal, angka indeks di bawah 50 menunjukkan bahwa sektor manufaktur AS tengah kontraksi.
[Gambas:Video CNN]
Meski demikian, pelaku pasar juga mengantisipasi tawaran Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kepada Uni Eropa yang rencananya akan diumumkan Rabu (2/10). Rencananya, Johnson akan mengumumkan bahwa perceraian Inggris dari Uni Eropa pada 31 Oktober mendatang adalah 'harga mati'.
"Dalam transaksi hari ini, rupiah masih akan melemah yang didukung oleh sentimen eksternal terutama Brexit dan demo di Hong Kong," katanya Rabu (2/10).
Ia memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.185 hingga Rp14.225 per dolar AS.