Kepala Subdirektorat Pengawasan usaha Eksplorasi Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Andri Budhiman Firmanto menyebut cadangan nikel saat ini ada di angka 698,88 juta ton. Cadangan akan digunakan untuk kebutuhan smelter dalam negeri kira-kira 90 juta ton antara tahun 2019 hingga 2021.
Hanya saja, jumlah smelter pada 2021 mendatang akan meningkat dengan pesat. Ia menaksir terdapat 37 smelter yang beroperasi dua tahun lagi, di mana angka ini meningkat pesat dari posisi 2016 yang hanya berjumlah tujuh smelter. Kebutuhan bijih nikel untuk 37 smelter tersebut bisa mencapai 81,21 juta per tahun mulai 2022 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal menurut dia, Indonesia berkesempatan menambah cadangan nikel lantaran masih ada cadangan nikel terkira sebanyak 2,87 miliar ton. Jika cadangan terkira itu digunakan, setidaknya bahan baku smelter nikel akan aman hingga 2064 nanti.
"Cadangan terkira ini banyak, tapi untuk memanfaatkan hal tersebut butuh waktu. Apalagi, halangannya banyak sekali," jelas dia.
Menurut dia, mobil listrik merupakan kebutuhan masa depan yang tak terelakkan. Apalagi, Indonesia juga menargetkan produksi mobil listrik bisa mencapai 20 persen dari total produksi mobil pada 2025. Sementara itu, produksi mobil listrik sangat tergantung dengan ketersediaan baterai, di mana bahan baku utamanya adalah nikel dan kobalt.
Oleh karena itu, ia berdalih bahwa pembatasan ekspor nikel yang dipercepat dari 2022 menjadi 2020 mendatang adalah hal lumrah yang dilakukan pemerintah agar cadangan nikel bisa tetap terjaga. Hal itu sendiri sudah tertuang di dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2019.
"Indonesia ini sebenarnya punya nikel kualitas terbaik di dunia yakni bijih nikel kadar rendah dengan kadar 0,8 persen hingga 1,5 persen, yang bisa digunakan untuk memproduksi baterai lithium kualitas tinggi," jelasnya.
[Gambas:Video CNN]
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) memprediksi kebutuhan nikel Indonesia per tahun bisa mencapai 100 juta ton per tahun mulai 2022 mendatang. Angka itu terdiri dari kebutuhan smelter nikel kadar rendah sebesar 11,33 juta ton per tahun, smelter nikel kadar tinggi sebesar 76,89 juta ton, dan smelter yang berstatus Izin Usaha Industri (IUI) sebesar 10 juta ton.
Maka itu, ia mendesak pemerintah untuk segera melakukan eksplorasi demi meningkatkan cadangan terbukti nikel. Ia sendiri menyebut, saat ini terdapat sumber daya nikel sebesar 8,64 miliar ton nikel yang sejatinya bisa diubah menjadi cadangan.
"Utamanya untuk nikel kadar rendah, memang diperlukan eksplorasi karena mengikuti tren kebutuhannya," imbuh dia. (glh/lav)