Pagi hari ini, mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong menguat 0,01 persen, baht Thailand menguat 0,02 persen, dolar Singapura menguat 0,04 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,06 persen.
Kemudian, yen Jepang menguat 0,09 persen, peso Flipina menguat 0,4 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,53 persen. Sementara itu, mata uang negara maju juga menguat terhadap dolar AS. Euro menguat 0,13 persen, poundsterling Inggris menguat 0,14 persen, dan dolar Australia menguat 0,18 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika data Indeks sektor jasa AS, di bawah estimasi, dolar AS bisa melemah lagi karena tren turun tingkat imbal hasil obligasi AS berlanjut. Kemarin selama dua hari beruntun data-data ekonomi AS berada di bawah ekspektasi pasar," jelas Ariston kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/10).
Sementara itu, Analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar berujar bahwa pelaku pasar pun sudah menempuh aksi ambil untung (profit taking) menjelang data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll/NFP) yang akan diumumkan akhir pekan ini. Angka ketenagakerjaan AS dianggap penting lantaran menjadi acuan bank sentral AS The Fed untuk menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.
"Pasar masih wait and see, mulai mengambil sikap hati-hati karena adadataNFP serta langkah AS yang mempersiapkan tarif baru untuk Uni Eropa. Sehingga range rupiah hari ini di kisaran Rp14.150 per dolar AS hingga Rp14.200 per dolar AS,"tuturDeddy.[Gambas:Video CNN] (glh/agt)