Mereka yang ikut arisan juga bisa sekaligus menabung. Setiap bulan bertemu dan menyetor sejumlah dana yang sudah disepakati bersama sejak awal.
Kemudian, peserta arisan akan mengocok 'undian' untuk menentukan siapa yang akan mendapatkan dana yang disetorkan oleh peserta saat itu sesuai waktu yang telah ditentukan. Namun, seiring berjalannya waktu, arisan tak hanya bisa dilakukan dengan tatap muka langsung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, arisan sejatinya bukanlah kegiatan investasi yang menghasilkan keuntungan. "Arisan itu kan mempererat persaudaraan, mempererat tali silaturahmi. Kalau pun dapat uang dari arisan itu tidak lebih dari jumlah yang dibayar dikali jumlah peserta," ucap Tongam kepada CNNIndonesia.com, Kamis (3/10).
Logikanya, jumlah uang yang didapatkan peserta arisan sesuai dengan dana yang dibayar lalu dikalikan dengan jumlah peserta. Misalnya, peserta diwajibkan membayar iuran arisan sebesar Rp500 ribu per bulan dengan jumlah anggota 10 orang. Maka, tiap peserta akan mendapatkan dana sebesar Rp5 juta.
Lihat juga:Kiat Pilih Saham untuk Mahar Pernikahan |
Ujung-ujungnya, peserta hanya dirugikan karena mayoritas uangnya tak kembali 100 persen. Maka itu, ia menyarankan agar masyarakat hanya mengikuti arisan jika kenal dengan isi komunitas dan adminnya.
"Tidak masalah arisan online tapi tahu dulu siapa-siapa saja isinya. Kalau hanya disebar di media sosial, tidak transparan, ini cenderung penipuan," tegas Tongam.
Senada, Kepala Perencana Keuangan dari One Shildt Financial Planning Agustina Fitria Aryani mengungkapkan masyarakat sebaiknya hati-hati memilih arisan, apalagi berbentuk online. Jangan asal ikut arisan yang ditawarkan melalui media sosial atau situs tanpa kenal dengan pengelola dan isi anggotanya dalam dunia nyata.
[Gambas:Video CNN]
"Lebih baik arisan yang dikenal, tidak apa-apa asal kenal," tuturnya.
Selain itu, masyarakat juga harus menghitung benar penawaran uang yang diberikan dari arisan tersebut. Misalnya, kata Agustina, kalau iuran satu peserta hanya Rp1 juta dan jumlah anggota 10 orang. Artinya tiap peserta akan mendapatkan Rp10 juta ketika namanya terpilih sebagai penerima uang arisan saat itu.
"Nah kalau ditawarkan sampai dapat Rp12 juta itu kan tidak benar. Dari mana Rp2 juta nya? Ini kan permainan uang, periode berikutnya uang justru tidak kembali," jelas Agustina.
Ia, sebagai perencana keuangan kebetulan juga mengikuti arisan secara online yang hasilnya berbentuk emas bersama orang tua murid di sekolah sang anak. Agustina menceritakan hal itu tak menjadi masalah karena arisan tersebut dibentuk karena anggotanya kenal satu sama lain.
Gambaran yang lebih detail, yakni peserta arisan bisa melihat harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam ketika waktu arisan tiba. Peserta bisa mengecek harga emas di laman resmi Antam.
Nantinya, total yang dibayar seluruh peserta adalah harga emas pada hari perdagangan di mana arisan dilakukan. Misalnya, emas yang disepakati untuk diberikan kepada setiap peserta berukuran 1 gram.
Jika ketika arisan harga emas 1 gram bernilai Rp750 ribu dan jumlah peserta sebanyak 10 orang, maka total harga dibagi 10 orang. Dengan demikian, satu peserta harus membayar Rp75 ribu agar bisa dibelikan emas 1 gram dan diberikan kepada yang mendapatkan arisan hari itu.
Lihat juga:Pilih-pilih Opsi Membiayai Pendidikan Anak |
Pengelolaan Uang dari Arisan
Selain harus hati-hati atau waspada ketika hendak ikut asuransi, masyarakat juga perlu bijak dalam mengelola uang yang didapat dari arisan. Agustina menyatakan bila mendapatkan uang arisan di awal kegiatan baru dimulai dan belum memiliki tujuan penggunaan, maka peserta bisa menjadikan dana itu sebagai modal investasi.
"Kalau rentang arisannya hanya satu tahun bisa pilih investasi seperti pasar uang, deposito. Setidaknya ada keuntungan jadinya yang didapat dari uang arisan," ujar Agustina.
Selain itu, peserta juga bisa menggunakan uang dari arisan untuk membeli saham yang harganya sesuai dengan dana yang didapatnya tersebut. Jika nilai yang didapat terbilang kecil, mungkin peserta bisa memilih saham yang masih murah dengan jumlah 1 lot terlebih dahulu.
Lihat juga:Timbun Emas Kala Ekonomi Global Makin Cemas |
Kendati begitu, ia menyebut tak ada hukum pasti mengenai penggunaan uang dari arisan. Agustina tak mempermasalahkan jika peserta ingin menggunakan dana dari arisan untuk berbelanja.
"Tapi kalau memang belum tahu mau dibuat apa, investasi saja, selain itu bisa untuk menambah dana-dana darurat juga," ucapnya.
Sementara, Eko menambahkan seseorang bisa menggunakan uang untuk membayar arisan dari jatah atau alokasi dana yang harus ditabung dari gaji per bulannya. Idealnya, setiap orang menyisihkan 10 persen dana dari total gaji yang didapat per bulannya.
Nah, untuk arisan bisa menggunakan sekian persen dari alokasi tersebut. "Tidak ada aturan pasti, tapi minimal sebaiknya pakai dari alokasi tabungan. Mungkin bisa ambil dari 10 persen itu," pungkas Eko.