Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyudi Saleh menyebut penyaluran beras untuk Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSA) tahun ini dibidik 1 juta ton. Namun, Bulog baru menyalurkan beras untuk operasi pasar sebanyak 340 ribu ton per September 2019.
"Target penyaluran beras operasi pasar 1 juta ton. Ini baru 340 ribu ton. Jadi, masih ada sekitar 600 ribu ton lagi yang harus kami gelontorkan," ujarnya ditemui di Malang, Jawa Timur, Jumat (4/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Target turun di bawah HET. Dua minggu ini kami hajar terus," imbuhnya.
Hanya saja, ia tak menampik harga beras sulit turun pada November 2019 hingga Februari 2020 nanti. Sebab, secara tren, permintaan selalu meningkat ketika akhir dan awal tahun.
Walaupun permintaan akan naik, tapi ia memastikan stok beras tetap aman hingga musim panen selanjutnya. Ia menyatakan pasokan beras saat ini sebanyak 2 juta ton.
"Artinya, stok perhitungan kami pas untuk musim panen berikutnya. Musim panen berikutnya Maret dan April 2020," jelasnya.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengingatkan agar Bulog tak berhenti melakukan operasi pasar demi menekan harga di pasar. Ia tak menampik cuaca masih belum kondusif untuk memproduksi berbagai bahan pangan.
Enggar menyampaikan data yang didapat dari Badan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tingkat hujan rendah dan menengah masih akan terjadi di Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi bagian Selatan.
"Dengan demikian, kami harus benar-benar melihat ketersediaan bahan pokok dan pantau harga. Itulah makanya sudah waktunya dilakukan operasi pasar," tandasnya.
[Gambas:Video CNN] (aud/bir)