Analis menengarai penyebab pelemahan indeks akibat penurunan cadangan devisa (cadev) Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi cadev hanya sebesar US$124,3 miliar pada akhir September 2019.
Posisi ini merosot hingga US$2,1 miliar dibanding posisi akhir Agustus 2019 yang mencapai US$126,4 miliar. Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan IHSG berada di zona hijau pada awal perdagangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya perang dagang, lesunya kinerja manufaktur AS juga turut mempengaruhi pasar ekuitas global termasuk Indonesia. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan angka Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur AS periode September berada di posisi 47,8.
Ini merupakan capaian terendah Negeri Paman Sam sejak Juni 2009. Indeks PMI manufaktur AS turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 49,1.
Sebaliknya, jika IHSG meninggalkan level psikologis itu, ia memprediksi IHSG bisa jatuh lebih dalam ke posisi 5.970 bahkan 5.800.
"Target IHSG hingga akhir tahun sementara 6.000 dulu selama beberapa hari. Tapi, kalau tidak kuat mungkin kami akan revisi ke 5.800 untuk jangka menengah," ujarnya.
Ditemui dalam kesempatan berbeda, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo menuturkan laju IHSG dipengaruhi oleh sentimen global. Ia memprediksi akibat ketidakpastian global tersebut pelaku pasar memilih untuk melarikan modalnya dari pasar modal Indonesia, salah satunya ke pasar Eropa.
[Gambas:Video CNN]
"Dunia masih gonjang ganjing,"katanya. Ia justru menilai tak ada sentimen negatif dari domestik.
Menurut dia, posisi cadev masih sesuai dengan ekspektasi pasar meskipun turun. (ulf/agt)