Padahal, Pepsi bukan barang baru di Indonesia. Minuman itu sudah diproduksi di dalam negeri sejak 1996 silam. Artinya, warga Indonesia sudah dimanjakan oleh minuman tersebut sejak 23 tahun lalu.
Mengulas sedikit mengenai keberadaan Pepsi di Indonesia, minuman itu hadir di bawah naungan PT Pepsi Indobeverages. Perusahaan tersebut merupakan hasil kerja sama PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan PepsiCo AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah akuisisi, Pepsi-Cola Indobeverages resmi menjadi unit usaha di Grup Indofood yang berada di sektor minuman ringan. Kontrak kerja sama Pepsi dengan Grup Indofood dievaluasi setiap tahun, di mana kontraknya habis setiap 10 Oktober.
Tahun ini, Grup Indofood sepakat untuk mengakhiri kontrak kerja samanya. Artinya, perusahaan tak akan lagi memproduksi minuman Pepsi ke depannya.
"AIBM dan PepsiCo Inc (PepsiCo) telah sepakat untuk mengakhiri kontrak pembotolan antara kedua perusahaan," ucapnya kepada CNNIndonesia.com belum lama ini.
Pihak PepsiCo Indonesia sendiri tak menjelaskan secara gamblang alasan dibalik berhentinya kontrak kerja sama dengan Grup Indofood. Yang pasti, ini merupakan keputusan komersial di antara keduanya.
Dihubungi terpisah, Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengakui penjualan minuman berkarbonasi atau bersoda turun di Indonesia setiap tahun. Dengan kata lain, pengusaha di sektor itu harus terus gigit jari karena pertumbuhan penjualannya negatif.
[Gambas:Video CNN]
"Mungkin bisa jadi keputusan komersial tidak diperpanjang disebabkan minuman bersoda secara umumnya pertumbuhannya negatif," kata Adhi.
Menurutnya, penjualan minuman berkarbonasi turun 1 sampai 2 persen per tahunnya. Ia belum melakukan kajian secara pasti penyebab penurunan penjualan minuman berkarbonasi di Indonesia.
Namun, ia berspekulasi penurunan permintaan minuman berkarbonasi karena semakin banyak pilihan minuman yang ditawarkan untuk masyarakat sekarang. Makanya, pemerintah dan pelaku usaha perlu mengkaji lebih detail minuman apa yang dicari oleh generasi milenial saat ini.
"Bisa jadi konsumen beralih, varian minuman banyak. Ada rasa buah, cokelat, kopi, dan lain-lain," ucap Adhi.
Kendati penjualan minuman berkarbonasi berada dalam tren penurunan, tapi kinerja industri minuman secara umum diklaim Adhi masih meningkat. Begitu juga bila diakumulasi antara penjualan makanan dan minuman (mamin) hingga September 2019.
"Kalau nasional masih meningkat, mungkin 8 persen kuartal III 2019. Kurang lebih sama seperti tahun lalu," jelas Adhi.
Sepanjang tahun ini, Adhi menargetkan industri mamin bisa meningkat 9 persen. Target itu terbilang moderat dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang sebesar 7,9 persen.
(agt)