Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto menjelaskan definisi minyak curah merupakan produk turunan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oils/CPO). Namun, minyak itu tidak murni, seperti minyak goreng dalam kemasan premium dengan merek ternama.
Sebab, minyak curah merupakan minyak sawit yang sudah melalui tahap pemurnian (refining), pemutihan (bleaching), dan penghilangan bau (deodorizing). Biasanya, kata Suhanto, minyak ini dikemas menggunakan drum dan didistribusikan menggunakan mobil tangki ke berbagai pasar di pelosok negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Mendag Batal Larang Peredaran Minyak Curah |
"Minyak curah juga rawan dioplos dengan jelantah bekas atau minyak selundupan. Padahal, secara visual, susah membedakan minyak curah produksi pabrikan dengan jelantah bekas yang telah dimurnikan warnanya," terangnya.
Untuk itu, pemerintah ingin penjualan minyak curah ke depan melalui proses penyulingan yang benar dan dikemas dengan kemasan premium yang menjamin kebersihan bagi konsumen, yaitu masyarakat. Kendati begitu, ia menekankan kebijakan ini tak serta merta menarik peredaran minyak curah secara langsung.
"Minyak goreng curah tidak ditarik Kemendag dari pasaran, namun Kemendag mengimbau agar masyarakat memilih produk minyak goreng yang terjamin bersih, halal, sehingga layak konsumsi," katanya.
Lebih lanjut, ia turut menegaskan pemerintah tidak melarang penggunaan minyak goreng produksi 'rumahan' alias home industry. Namun, ia mengharapkan minyak itu bisa dikemas dengan kemasan yang baik pula.
"Saat ini minyak home industry kebanyakan di wilayah Indonesia timur, seperti Manado, dari bahan dari kopra," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)