Dalam laporan yang mereka rilis Selasa (8/10) kemarin, Boeing menyatakan penurunan pengiriman pesanan tersebut terjadi akibat larangan terbang yang diberlakukan otoritas penerbangan terhadap Boeing 737 Max produksi mereka.
Para analis memproyeksikan penurunan pengiriman tersebut akan berdampak ke laba perusahaan. Mereka meramalkan, laba Boeing akan anjlok tajam pada 2019 ini akibat penurunan pengiriman tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecelakaan kedua menimpa Boeing 737 Max 8 yang dioperasikan Ethiopian Airlines. Kecelakaan menewaskan 149 orang. Larangan terbang tersebut membuat Boeing memangkas produksi pesawat mereka.
Bukan hanya itu saja, larangan terbang tersebut juga harus membuat mereka menyimpan ratusan pesawat yang baru selesai diproduksi. Boeing saat ini tengah berupaya untuk mendapatkan persetujuan terbang lagi dari otoritas penerbangan supaya keterpurukan yang mereka alami bisa segera diatasi.
[Gambas:Video CNN]
Beberapa waktu lalu FA mengisyaratkan akan membolehkan MAX terbang lagi sebelum Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) dan badan lain. EASA sendiri dalam pernyataan mereka melalui sebuah email menyatrakan masih menilai perangkat lunak komputer kontrol penerbangan terbaru MAX.
"Kami pada tahap ini tidak memiliki kekhawatiran khusus yang dihasilkan dari penilaian itu yang berarti bahwa kami tidak dapat menyetujui pengembalian yang terkoordinasi ke layanan. Namun penilaian belum selesai. Kami terus melakukan kontak dengan FAA dan Boeing," kata mereka seperti dikutip dari AFP, Rabu (9/10).
Boeing mengatakan akan terus bekerja dengan EASA supaya harapan mereka bisa terkabul sesuai waktu yang mereka harapkan "Ke depan, kami terus menargetkan persetujuan pengaturan untuk 737 MAX yang kembali berfungsi pada kuartal ini, meskipun FAA dan regulator global lainnya yang pada akhirnya akan menentukan timeline," kata juru bicara Boeing.