Pasalnya, Jokowi mengaku masih menerima pengaduan dari masyarakat yang tetap tak bisa memanfaatkan lahan, meski telah memiliki surat keputusan.
Jokowi kemudian mengingatkan Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Mauna bahwa zaman telah berubah. Ia meminta tak memakai cara-cara lama dalam memimpin perusahaan plat merah tersebut. Menurutnya, mungkin bukan Denaldy yang menghambat, tetapi jajaran di bawahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jokowi pun meminta waktu untuk berbicara dengan Denaldy dan jajarannya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Menurutnya, sampai hari masih terjadi konflik antara desa dengan Perhutani maupun PT Perkebunan Nusantara.
"Ada beberapa SK yang dikembalikan langsung ke tangan saya. Saya pas ke daerah (warga bicara), Pak, ini SK-nya enggak bisa jalan di lapangan," kata Jokowi di depan perwakilan masyarakat perhutanan sosial, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (10/10).
Dari data terbaru per 1 Oktober yang diterima, Jokowi mengungkapkan penyerahan lahan lewat program perhutanan sosial di Pulau Jawa mencapai 25 ribu hektare. Sedangkan untuk program perlindungan kemitraan telah diberikan sekitar 150 hektare.
Jokowi meminta program tersebut harus terus berjalan. Presiden terpilih itu menyatakan bahwa pemerintah menargetkan sekitar 12,7 hektare lahan perhutanan sosial diberikan ke masyarakat desa. Ia sadar pelaksanaan target tak semudah seperti yang direncanakan.
"Di bawah juga ada birokrasi kita, Perhutani, yang ada yang bisa terima, ada yang tidak bisa terima," kata Jokowi.
Jokowi mengaku memahami persoalan yang terjadi terkait pemberian penguasaan lahan kepada masyarakat desa. Ia menyinggung para pihak yang merasa terganggu dalam program ini karena kenyamanannya sudah lama dinikmati.
"Saya mau selesaikan nanti khusus Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertahanan, dan Perhutani, harus selesai ini, harus selesai," tegasnya.
[Gambas:Video CNN]
(fra/lav)