Dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, pemerintah menargetkan pembangunan 17 KEK sampai akhir tahun ini.
Per awal Oktober 2019, pemerintah baru membangun 13 KEK yaitu di Sei Mangkei, Tanjung Lesung, Palu, Bitung, Morotai, dan Maloy Batuta Trans Kalimantan. Kemudian, KEK di Tanjung Api-Api, Mandalika, Tanjung Kelayang, Sorong, Arun Lhokseumawe, Galang Batang, dan Singasari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, rata-rata peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sekitar 13 persen pada 2015-2018 dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten meningkat 60 persen pada 2015-2017.
"Dibandingkan dengan harapan kami memang masih di bawah harapan," ucap Darmin di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (10/10).
Menurut Darmin, belum optimalnya dampak KEK disebabkan oleh beberapa kendala, mulai dari rumitnya pembebasan lahan hingga regulasi yang kerap multitafsir.
Darmin mencontohkan persoalan dalam pembebasan lahan terjadi karena begitu pemerintah mengumumkan akan membangun KEK, harga tanah di kawasan yang akan dibangun menjadi KEK langsung naik.
"Masa ada dia (pemilik tanah) yang tunggu harga jadi Rp10 juta per meter baru dijual ke kami, ya repot kalau begitu. Kalau di Jakarta sih boleh, tapi di sini (KEK) ya tidak," katanya.
"Jadi ada hal-hal yang memang kami ingin mendapatkan suatu yang lebih bisa dilihat, tapi kadang justru kurang menurut dunia usaha," terangnya.
Selanjutnya, ada masalah multitafsir regulasi pemerintah oleh dunia usaha. Masalah ini, kata Darmin, kerap terjadi pada investor baru yang sebelumnya tidak pernah bekerja sama dengan pemerintah. "Repotnya, walau kami sudah ubah sana sini aturan, tapi investor lebih percaya investor di dalam. Padahal sudah kami ubah, tapi mereka belum percaya, itulah kenapa kami kerja sama dengan Kadin," jelasnya.
Sementara untuk lima tahun ke depan, Darmin mengatakan pemerintah akan mengembangkan konsep dan rencana pembangunan KEK dengan melakukan evaluasi menyeluruh pada KEK yang sudah berjalan. Namun, bagaimana tren pembangunan KEK ke depan belum bisa secara rinci dijabarkannya.
[Gambas:Video CNN] (uli/sfr)