Duflo, merupakan seorang profesor Prancis-Amerika berusia 46 tahun yang telah menjabat sebagai penasihat mantan presiden AS Barack Obama. Dia berbagi Nobel dengan suaminya, Abhijit Banerjee kelahiran AS dari India, dan Michael Kremer dari Amerika.
"Mereka memenangkan Nobel untuk pendekatan eksperimental mereka untuk mengurangi kemiskinan global," kata Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia dikutip dari AFP, Senin (14/10).
Lihat juga:Abiy Ahmed, Mantan Intel Peraih Nobel |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga orang ini menemukan cara yang efisien untuk memerangi kemiskinan dengan memecah masalah sulit menjadi pertanyaan yang lebih kecil, lebih mudah dikelola, yang kemudian dapat dijawab melalui eksperimen lapangan.
"Saya tidak berpikir itu mungkin untuk memenangkan Hadiah Nobel di bidang Ekonomi," tambahnya.
Mengatasi kenyataan bahwa sedikit sekali ekonom wanita yang dihormati, Duflo mengatakan ini juga merupakan cerminan bidang tersebut secara umum.
"Tidak ada cukup banyak wanita dalam profesi ekonomi, jadi Anda melihat masalah ini di semua tingkatan," kata Duflo kepada situs web Hadiah Nobel.
Dalam 20 tahun terakhir, lebih dari tiga perempat penerima hadiah ekonomi adalah pria kulit putih Amerika yang berusia di atas 55 tahun.
Duflo telah melakukan penelitian pada masyarakat miskin di India dan Afrika bersama dengan suaminya, yang merupakan supervisor PhD-nya. Mereka berusaha untuk menimbang dampak kebijakan seperti memberi insentif kepada guru untuk datang bekerja atau langkah-langkah untuk memberdayakan perempuan.
Tesnya, yang telah disamakan dengan uji klinis untuk obat-obatan, berusaha mengidentifikasi dan menunjukkan investasi mana yang layak dibuat dan memiliki dampak terbesar pada kehidupan orang yang paling kekurangan.
"Visi kami tentang kemiskinan didominasi oleh karikatur dan klise," katanya kepada AFP dalam wawancara September 2017.
Banerjee dan Duflo keduanya adalah profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di AS, sementara Kremer adalah seorang profesor di Universitas Harvard.
Pada 1990-an, Kremer menggunakan eksperimen lapangan untuk menguji intervensi untuk meningkatkan hasil sekolah di Kenya barat.
Dia juga membantu mengembangkan program untuk mendorong distribusi vaksin untuk penyakit di negara berkembang. (age)