Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Tercatat, won Korea menguat 0,57 persen, rupee India 0,38 persen, yuan China 0,22 persen, dolar Hong Kong 0,02 persen, baht Thailand 0,05 persen, dolar Singapura 0,01 persen, dan lira Turki 0,19 persen.
Sementara itu, kurs ringgit Malaysia dan yen Jepang masing-masing terpantau melemah 0,06 dan 0,01 persen terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada potensi rupiah menguat lagi karena sentimen positif dari potensi tercapainya kesepakatan Brexit," kata Ariston saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (18/10).
Selain itu, lanjut Ariston, penguatan rupiah juga dipengaruhi potensi pemangkasan suku bunga acuan AS akibat melemahnya data penjualan ritel AS pada bulan September, yang dirilis Rabu (16/10) lalu.
[Gambas:Video CNN]
"Data indeks manufaktur AS bulan Oktober yang di bawah ekspektasi yang dirilis tadi malam juga menjadi penopang penguatan rupiah," ucapnya.
Lebih lanjut, Ariston berpendapat rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp14.100 sampai dengan Rp14.190 per dolar AS pada akhir pekan ini.