Berkaitan dengan itu, generasi milenial bisa memanfaatkan masa lima tahun itu untuk mencari untung. Caranya dengan berinvestasi.
Namun, ada beberapa rambu yang perlu diperhatikan sebelum milenial menentukan investasi yang akan dipilih selama periode tersebut.
Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengungkapkan sebelum berinvestasi milenial harus memperhatikan lima hal utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Cermat Berinvestasi di Masa Resesi |
Kedua, prediksi lamanya waktu berinvestasi, apakah untuk jangka pendek atau kurang dari 1 tahun, jangka menengah 1-3 tahun, atau jangka panjang lebih dari 3 tahun.
Ketiga, pertimbangkan kemudahan untuk dijual atau dijadikan uang lagi (likuiditas). Produk-produk keuangan seperti reksadana dan obligasi kebanyakan sangat mudah dicairkan.
Lihat juga:Marak Penipuan, Hati-hati Pilih Kawan Arisan |
Keempat, pahami tujuan investasi apakah untuk biaya menikah, beli rumah atau pensiun.
Kelima, pelajari skema pajak yang harus dibayarkan apabila menjual investasi yang dipilih.
"Ada beberapa yang pajaknya sudah final dan ada yang belum sehingga pajaknya harus ditanggung sendiri, yang tentunya akan mengurangi laba kita," katanya.
Instrumen pasar saham, misalnya, berisiko tinggi namun untuk jangka panjang bisa mendapat keuntungan baik dari proses perdagangan maupun dividen perusahaan.
Untuk menekan risiko, milenial bisa memilih saham papan atas (blue chip) yang volatilitasnya tidak ekstrem.
Berikutnya, sambung ia, reksa dana berbasis saham atau campuran.
Lihat juga:Kiat Pilih Saham untuk Mahar Pernikahan |
Alternatif lainnya adalah logam mulia yang memiliki potensi pertumbuhan nilai yang baik dan properti yang membutuhkan modal besar tapi potensi labanya juga besar.
Selain itu, dalam tempo 5 tahun, milenial juga bisa bergabung menjadi pemodal suatu bisnis. Bisa bisnis yang dirintis oleh seseorang maupun investasi fintech yang saat ini marak.
Andy mengingatkan investasi yang dilakukan secara berkala sebaiknya disisihkan dari 10 persen penghasilan yang diterima setiap bulan. Namun, jika mampu menyisihkan porsi lebih besar tanpa mengganggu kebutuhan lain akan lebih baik.
Beberapa contoh kesalahan yang kerap dilakukan adalah salah memilih produk investasi; tujuan jangka panjang memakai produk jangka pendek; dan, sebaliknya, panik dengan kondisi jangka pendek padahal tujuan jangka panjang.
Kesalahan lain yang juga kerap dilakukan adalah tidak melakukan evaluasi berkala.
Terkait jenis investasi yang cocok selama lima tahun ke depan, Eko menilai produk yang memberi hasil tinggi dengan risiko tinggi bisa menjadi pilihan seperti saham dan reksa dana saham. Selain itu, instrumen lain seperti properti dan emas juga bisa menjadi alternatif.
"Jangka waktu (yang panjang) bisa mengurangi risiko," jelasnya.
[Gambas:Video CNN]