Selama sembilan bulan pertama tahun ini, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencetak laba bersih Rp24,8 triliun pada kuartal III 2019. Realisasi tersebut cuma tumbuh 5,36 persen dari periode yang sama tahun lalu, Rp23,47 triliun.
Padahal, pada kuartal III 2018, laba emiten dengan kode BBRI ini melesat 14,6 persen secara tahunan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan, sambung Haru, menyikapi penurunan NIM sebagai proses yang jamak terjadi pada suatu industri yang berkembang.
Di luar pendapatan bunga, pendapatan non bunga atau (Fee Based Income/FBI) perseroan juga cuma tumbuh 5,36 persen menjadi Rp24,8 triliun.
"Pertumbuhan ini lebih tinggi dari pada (pertumbuhan) industri yang hanya tumbuh sebesar 8,59 persen data per Agustus 2019," tutur Direktur Utama BRI Sunarso.
Segmen mikro mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 13,23 persen secara tahunan menjadi Rp301,89 triliun. Kredit mikro sendiri mengambil porsi sepertiga dari keseluruhan kredit perseroan.
Selain kredit mikro, kredit ritel dan menengah tumbuh 14,8 persen dengan penyaluran kredit sebanyak Rp261,67 triliun.
Adapun penyaluran kredit UMKM mencapai Rp700,84 triliun atau 77,6 persen dari total penyaluran kredit.
"Ini sesuai dengan aspirasi perseroan untuk mewujudkan porsi kredit UMKM mencapai minimal 80 persen dari total kredit BRI nanti di akhir tahun 2022," ujar Sunarso.
Pertumbuhan kredit menyebabkan aset perseroan meningkat 10,34 persen menjadi Rp1.305,67 triliun.
"Pertumbuhan giro dan tabungan yang lebih tinggi dari deposito mampu mendongkrak rasio dana murah, atau yang sering kita sebut CASA. CASA tumbuh 57,95 persen sebesar Rp555,87 triliun," jelasnya.
Kondisi tersebut membuat rasio penyaluran kredit terhadap simpanan (LDR) mencapai 94,15 persen dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 21,89 persen.
Kinerja laba satu digit juga ditorehkan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. Hingga kuartal III 2019, laba perseroan tercatat Rp12 triliun atau cuma tumbuh 4,7 persen. Pada periode yang sama tahun lalu, laba perseroan melaju 12,6 persen.
Namun, pertumbuhan NII perseroan hanya 3,4 persen menjadi Rp26,9 triliun, melambat dari periode yang sama tahun lalu, 10,6 persen.
Perolehan pendapatan bunga bersih didukung dengan pertumbuhan kredit perseroan yang mencapai 14,7 persen menjadi Rp 558,7 triliun. Penyaluran kredit tersebut didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 5,9 persen menjadi Rp581 triliun.
Pertumbuhan kredit perseroan ditopang oleh pembiayaan pada segmen korporasi yang tumbuh 18,1 persen dari periode yang sama tahun 2018 menjadi Rp 291,7 triliun.
Sementara untuk DPK, perseroan menjaga rasio dana murah dengan komposisi CASA mencapai 64,3 persen dari total DPK.
Penurunan laba perseroan lebih dalam tertahan oleh pertumbuhan FBI yang mencapai 13 persen secara tahunan menjadi Rp8,1 triliun.
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat laba bersih Rp16,85 triliun per Agustus 2019. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp15,17 triliun, kinerja laba perseroan bertumbuh 9,29 persen.
[Gambas:Video CNN] (fey/sfr)