Kecenderungan investasi China, lanjutnya, malah bikin Indonesia identik dengan penanaman modal dari negara Tirai Bambu saja.
"Ketika ada investasi dari sahabat kita, dari negara Arab Saudi mau masuk kok tidak terjadi? Nanti selalu bahasnya 'oh investasi kok dari China saja'. Nah sebenarnya kan ada investasi dari Jepang, dan Korea juga tidak terdengar. Apalagi Arab Saudi," ujar Erick kepada awak media di Gedung PUPR, Jakarta Selatan, Sabtu (26/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Saudi Aramco juga kemungkinan menjadi rekan bisnis Pertamina dalam pengembangan Kilang Cilacap. Namun, kedua pihak belum menandatangani Joint Venture Development Agreement (JVDA).
"Apalagi dari Arab Saudi sekarang. Ini ada sahabat mau investasi, malah sudah 5 tahun tidak jadi, akhirnya keluarlah isu [investasi China], ini hal yang saya rasa harus dihindari," kata Erick.
Pada awal kepemimpinan Jokowi pada 2015 lalu, nilai perdagangan China-Indonesia melejit menjadi US$48,2 miliar jika dibandingkan pada 2005 lalu yang hanya mencapai US$8,7 miliar.
Kini, China juga menggantikan Jepang sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. Pada era Jokowi, pemerintah menggandeng China untuk berinvestasi di sejumlah proyek infrastruktur besar negara, salah satunya proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. (jnp/asa)