"Kami harus meningkatkan efisiensi, tidak ada cara lain," ujar Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin, seperti dilansir Antara, Senin (28/10).
Ia melanjutkan apabila ingin berbisnis, namun harga bahan bakunya tidak bisa dikontrol, seperti batu bara, maka satu-satunya cara adalah mengendalikan beban biaya produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia merinci beban pokok penjualan Bukit Asam hingga September 2019 sebesar Rp10,5 triliun atau naik 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp9,4 triliun.
Persoalannya, harga jual rata-rata batu bara secara global melorot hingga 7,8 persen dibandingkan tahun lalu menjadi Rp775.675 per ton. Penurunan harga dikarenakan pelemahan harga batu bara indeks Newcastle sebesar 25 persen menjadi US$81,3 per ton dari tahun sebelumnya US$108,3 per ton.
Demikian halnya indeks harga batu bara thermal Indonesia yang turun 21 persen menjadi rata-rata US$50,8 per ton per September 2019 dari periode yang sama tahun lalu, yakni US$64,5 per ton.
[Gambas:Video CNN] (antara/bir)