Perang Dagang, BI Proyeksi Ekonomi Dunia Tumbuh 2,9 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 31/10/2019 20:03 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo memproyeksi ekonomi dunia hanya tumbuh 2,9 persen jika skenario terburuk perang dagang AS-China tak mencapai titik temu. Gubernur BI Perry Warjiyo. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun depan bisa di bawah 3 persen atau tepatnya 2,9 persen. Hal ini merupakan skenario terburuk jika pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China tak juga menentukan titik temu dalam menyelesaikan perang dagang.

"Kami tidak tahu AS dan China akan sepakat (terkait perdagangan) atau memburuk. Kalau memburuk, tahun depan ekonomi global mungkin tidak sampai 3,1 persen, bisa 2,9 persen-3 persen," kata Perry, Kamis (31/10).

Jika ada kemajuan dari konflik perang dagang antara AS dan China, Perry optimistis ekonomi dunia bisa tembus 3,1 persen. Makanya, ia berharap ada kesepakatan perdagangan antara kedua negara tersebut.


"Semoga terjadi kesepakatan bulan depan," terang Perry.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 sebesar 3,4 persen atau turun dari prediksi sebelumnya sebesar 3,5 persen-3,6 persen. IMF menyatakan perang dagang AS-Cina bakal mengurangi tingkat PDB global sebesar 0,8 persen pada 2020.

Untuk tahun ini, IMF meramalkan pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya 3 persen. Angka itu turun dari proyeksi sebelumnya yang mencapai 3,3 persen.

Penasihat Ekonomi sekaligus Direktur Departemen Riset IMF Gita Gopinath menuturkan target tersebut merupakan angka paling rendah sejak krisis keuangan global. Ia mengkonfirmasi hal itu jika pertumbuhan ekonomi global melambat.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi global dipicu penurunan tajam sektor manufaktur dan perdagangan global. Kondisi ini disebabkan kenaikan tarif dan ketidakpastian kebijakan dagang, sehingga mengganggu arus investasi dan permintaan barang modal.

Mengutip AFP, Presiden AS Donald Trump meyakini bisa menandatangani kesepakatan dagang fase pertama dengan China pada November 2019. Kesepakatan ini menjadi langkah untuk meredakan tensi dagang antara kedua negara.

"Kami pikir kami akan dapat menandatangani dokumen lengkap dengan China pada fase pertama," kata Trump.
[Gambas:Video CNN] (aud/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK