Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Dody Edward menuturkan pameran dagang ini diharapkan dapat mengerek ekspor Indonesia ke China. Pasalnya, Indonesia mengalami defisit perdagangan nonmigas dengan China mencapai US$12,51 miliar sepanjang Januari-Agustus 2019.
Sementara itu, total perdagangan dua negara mencapai US$45,9 miliar selama 9 bulan. "China International Import Expo ini adalah gambaran bahwa China adalah pasar yang terbuka," katanya, Jumat (1/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mengenalkan produk Indonesia melalui pameran dagang, ia bilang pemerintah akan menerapkan berbagai strategi untuk menekan defisit dagang dengan China. Salah satunya dengan menggenjot ekspor produk berbasis industri.
Alasannya, selama ini komoditas ekspor utama Indonesia ke China mayoritas berasal dari Sumber Daya Alam (SDA), seperti batu bara, feronikel, batu bara bitumen, bijih nikel, dan konsentrat.
"Pemerintah sudah membuat regulasi tertentu kemudahan impor bahan baku, sehingga nanti produk sumber daya alam ini dengan bahan baku bisa memproduksi produk yang memiliki nilai tambah," imbuh Dody.
Pameran ini akan menampilkan produk impor dari 172 negara dengan target pengunjung lebih dari 150 ribu orang. Delegasi Indonesia sendiri, akan dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan selaku utusan khusus RI dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.
[Gambas:Video CNN] (ulf/bir)