Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan pertumbuhan ekonomi secara kuartal tercatat 3,06 persen. Angka tersebut juga melambat dibandingkan dengan kuartal III 2018 yang sebesar 3,09 persen.
"Secara kumulatif ekonomi melambat karena kalau dibandingkan dengan kuartal II 2019 tumbuh 5,05 persen dan kuartal III 2018 sebesar 5,17 persen," kata Suhariyanto di kantornya, Selasa (5/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjabarkan ekonomi AS hanya tumbuh 2 persen pada kuartal III 2019, melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,1 persen. Sementara, Singapura hanya tumbuh 0,1 persen dari sebelumnya yang mencapai 2,6 persen dan Korea Selatan hanya 2 persen dari 2,1 persen.
Sementara itu, porsi sektor manufaktur masih dominan terhadap PDB dengan nilai 19,62 persen. Kendati demikian, pertumbuhannya hanya tercatat 4,15 persen, melambat dari periode yang sama tahun lalu 4,35 persen.
Jika dirinci lebih detil, industri batu bara dan pengolahan migas turun 1,4 persen.
Suhariyanto menjelaskan harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada kuartal III 2019 turun 16,5 persen dibandingkan ICP pada kuartal III 2018. Penurunan juga terjadi pada harga batu bara yang merosot 42,07 persen dan minyak sawit yang tergerus 6,85 persen.
"Pada kuartal III 2019 harga komoditas migas dan non migas di pasar internasional turun secara kuartal dan tahunan," tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sembilan bulan pertama tahun ini stagnan di kisaran 5,05 persen. Prediksi ini dengan perhitungan konsumsi di atas 5 persen.