Kelaparan yang diderita 22 juta orang tersebut, atau 90 persen dari jumlah orang miskin Indonesia versi Badan Pusat Statistik (BPS) yang sebanyak 25,14 juta orang dikarenakan masalah di sektor pertanian, seperti upah buruh tani yang rendah dan produktivitas yang juga rendah.
"Banyak dari mereka tidak mendapat makanan yang cukup dan anak-anak cenderung stunting. Pada 2016-2018, sekitar 22,0 juta orang di Indonesia menderita kelaparan," terang laporan tersebut dikutip dari laman resmi ADB, Rabu (6/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peringkat Indonesia itu terbawah dibandingkan Singapura pada urutan pertama, Malaysia ke-40, Thailand ke-54, serta Vietnam ke-62. "Karena akses untuk mendapatkan makanan di Indonesia cukup rendah," kata laporan itu.
Namun demikian, ADB menyebut bahwa Indonesia dapat mengurangi kasus kelaparan pada 2030 dan mengakhirinya pada 2045. Dengan catatan, RI dapat meningkatkan investasinya di bidang pertanian untuk memodernisasi sistem dan pasar pangan, sehingga lebih efisien.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut bahwa swasembada pangan, termasuk meningkatkan ketahanan pangan, tidak bisa dilakukan secara instan.
"Kedaulatan pangan kita langsung sehari-dua hari balikkan tangan jadi, tidak akan mungkin seperti itu," jelasnya dalam Rakornas dan Diskusi Nasional HKTI pada Maret lalu.
[Gambas:Video CNN] (bir)