Ia menyebut lembaganya hanya memberikan satu kali kali izin impor perkakas tangan pada tahun ini. Izin impor pun tidak diberikan dalam bentuk barang jadi.
"Selama 2019, baru satu kali impor bahan baku untuk perkakas tangan, itu seharusnya berbentuk lembaran, belum diruncingkan, belum ada ujungnya, belum dicat, belum diberi merek, masih berbentuk lembaran plat baja. Jadi ini baru sekali dan itu 400 ton. Kami tidak pernah berikan izin impor untuk cangkul jadi," katanya Jumat (8/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Maksud Amarah Jokowi di Balik Impor Cangkul |
"Saat kami temukan, sudah jadi, sudah ada gagangnya, jadi patut diduga ilegal, tapi ini sedang kami dalami. Sementara posisinya di Surabaya dan Tangerang, diduga dari China," ungkap Veri di Kemendag.
Ia mengatakan untuk mengungkap permasalahan tersebut Kemendag terus melakukan investigasi.
Lebih lanjut ia menduga pemerintah bisa 'kecolongan' impor cangkul ilegal karena ada kekurangan pengawasan di kawasan post border. "Mungkin ini bisa karena dampak post border, tapi ini sedang kami dalami. Tapi pelaku usaha ilegal kan memang masuknya dari mana saja tidak tahu," ujarnya.
Masalah impor cangkul mengemuka setelah Jokowi mengungkapkan kejengkelannya. Ia mengaku heran Indonesia bisa impor cangkul. Pasalnya, cangkul yang seharusnya bisa diproduksi di dalam negeri, justru diimpor.
"Puluhan ribu-ratusan ribu cangkul yang dibutuhkan masih impor. Apakah negara kita yang sebesar ini industrinya yang sudah berkembang, benar cangkul harus impor? Enak banget itu negara yang barangnya kita impor," tutur Jokowi.
"Saya minta LKPP untuk memprioritaskan produk dengan komponen lokal yang sangat tinggi. Persulit barang impor itu. Setop lah (impor). Ini duit APBN, APBD. Prioritaskan benar bahwa harga murah bukan patokan utama. Murah tapi impor, saya lebih senang beli barang lokal, meski harganya sedikit lebih mahal," katanya.
(uli/agt)