Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.059 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Senin (11/11), yakni Rp14.040 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di rentang Rp14.035,5 hingga Rp14.062 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat, won Korea menguat 0,44 persen, peso Filipina 0,23 persen, dan yuan China 0,10 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah disebabkan sentimen terkait informasi tentang ekonomi Indonesia yang membaik.
"Hal tersebut membawa berkah bagi pelaku pasar sehingga optimisme kembali menguat di kalangan pebisnis," kata Ibrahim saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (12/11).
"PDB tumbuh 5,02 persen pada kuartal III 2019 itu di atas perkiraan pasar," ungkapnya.
Kendati demikian, Ibrahim menyebut rupiah masih dapat berpotensi melemah dengan ketidakjelasan perjanjian dagang antara AS dan China. Namun tidak menutup kemungkinan juga dapat menguat dari sentimen positif internal seperti yang terjadi sore ini.
"Walaupun data eksternal yang negatif tidak serta merta mata uang rupiah kembali melemah," tuturnya.
Lebih lanjut,Ibrahim berpendapat dalam transaksi Rabu (13/11) besok, rupiah kemungkinan akan melemah dengan kisaran level Rp14.015 hingga Rp14.080 per dolar AS. (ara/sfr)