Namun, jika diakumulasi, neraca perdagangan masih defisit Januari-Oktober 2019 mencapai US$1,79 miliar. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus perdagangan terjadi karena meskipun nilai ekspor menurun, impornya turun lebih dalam.
Pada Oktober 2019, nilai ekspor total mencapai US$14,92 miliar atau naik 5,92 persen dibanding bulan sebelumnya. Namun, secara tahunan, ekspor tercatat turun 6,13 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melanjutkan perekonomian global masih menjadi tantangan, utamanya pada kinerja ekspor Indonesia. Lihatlah, meski ekspor meningkat secara bulanan, namun angkanya turun 6,13 persen dibandingkan Oktober 2018 lalu.
Beruntung, ekspor kendaraan roda empat dan alas kaki masih mencetak kinerja kinclong, termasuk hasil tambang, seperti batu bara dan bijih besi nikel.
"Peningkatan ekspor ke China dan Jepang, terutama untuk mineral. Alas kaki ke AS dan Jerman," tandas Suhariyanto.
[Gambas:Video CNN] (uli/bir)