Seperti dilansir AFP, Minggu (17/11), perusahaan investasi milik Ortega, yaitu Pontegadea, pada awal bulan ini telah membeli gedung perkantoran senilai US$415 juta yang menjadi markas Facebook di Seattle, Amerika Serikat.
Kemudian, ia juga membeli kompleks perkantoran Troy Block di kota yang sama senilai US$740 juta. Kompleks perkantoran itu merupakan markas perusahaan e-commerce raksasa, Amazon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Ortega tercatat memiliki properti di sembilan negara, yakni Inggris, Kanada, Prancis, Italia, Meksiko, Portugal, Korea Selatan, Spanyol, dan AS.
Ortega memang menyimpan semua deviden yang dihasilkannya di Pontegadea. Keuntungan itu kembali diinvestasikan pada pembangunan real estate.
Lihat juga:Ekonomi AS Kuartal Keempat Terancam Mandek |
Selain Zara, pria 83 tahun itu juga memiliki saham merk fesyen lainnya, seperti Massimo Dutti dan Bershka.
"Normal bagi pengusaha dengan banyak modal menyimpan dana investasinya untuk mengelola, diversifikasi, dan melestarikan kekayaan dengan membangun perlindungan dari fluktuasi pasar saham," kata seorang profesor keuangan sekolah bisnis Esade di Barcelona, Carlos Amaro.
Sejumlah analis lain menganggap Ortega menargetkan investasi jangka panjang, bukan berspekulasi.
[Gambas:Video CNN]
"Saya pikir dia ingin memiliki diversifikasi nilai tukar untuk melindungi dirinya dari kemungkinan kemunduran nilai euro atau poundsterling," kata Direktur Utama Departemen Keuangan Sekolah Bisnis IE Madrid, Manuel Romera.
Ortega mendirikan raksasa mode Zara bersama mantan istrinya, Rosalia, di Galicia, barat laut Spanyol pada 1975 silam.
Ortega telah lama dikenal sebagai investor yang bijaksana. Ia menghindari menanamkan modalnya di sektor perumahan, terutama setelah anjloknya sektor properti sekitar akhir 2000-an hingga memicu resesi berkepanjangan.
Padahal, perumahan real estate berpotensi lebih menguntungkan ketimbang penjualan gedung-gedung kantor. (rds/bir)