Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah menyatakan perusahaan online travel agent (OTA) seringkali menjual harga tiket tinggi. Sebab, OTA seringkali menggabungkan rute.
"Yang jadi masalah di OTA itu suka digabung-gabungkan rutenya sehingga menyebabkan harganya mahal," ucap Pikri, Selasa (26/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sampaikan tak ada kenaikan harga selama nataru," tegasnya.
Maka itu, ia akan memantau harga yang akan dijual di sejumlah agen perjalanan untuk meminimalisir penjualan harga tiket di atas TBA. Pikri menyebut tiket yang akan dijual nantinya tetap di bawah tarif batas atas (TBA).
Hanya saja, harga yang ia maksud di bawah TBA itu belum termasuk dengan penambahan sejumlah komponen lain, seperti Pembayaran Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) atau Passenger Service Charge (PSC), pajak pertambahan nilai (PPn) 10 persen, dan asuransi.
"Contoh Jakarta-Yogyakarta misalnya tiket Rp800 ribu. Tapi ada PSC Rp130 ribu di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, ditambah PPn 10 persen, dan iuran asuransi. Jadi bisa Rp1 juta lebih," pungkas Pikri.
[Gambas:Video CNN] (aud/age)