Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina Heru Setiawan menjelaskan angka itu naik signifikan hingga 1.058 persen dibandingkan dengan posisi 2017 yang hanya US$37 juta atau Rp518 miliar.
"Untuk memenuhi permintaan energi baru terbarukan, Pertamina mengalokasikan 10 kali lipat anggaran investasi untuk 2020-2026 dibandingkan dengan realisasi investasi pada 2017," ucap Heru, Rabu (27/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu dengan mempertimbangkan kondisi di Indonesia, di mana skenario MAD adalah langkah transisi ke arah energi baru terbarukan. Hanya saja, saat ini permintaan energi memang masih didominasi minyak bumi.
"Namun mulai ada substitusi ke gas bumi secara masif dan energi baru terbarukan secara bertahap," kata Heru.
[Gambas:Video CNN]
Menurutnya, pemanfaatan EBT di Indonesia memang belum agresif lantaran teknologinya yang masih terbatas. Dengan demikian, proses pengembangan EBT belum bisa dibilang efektif dan efisien.
"Model bisnis EBT belum mendukung pada terciptanya ekosistem bisnis yang atraktif," pungkas Heru. (aud/agt)