"BPJS akan menyelesaikan hal ihwal dalam penyelenggaraan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), termasuk soal defisit. BPJS siap menyelesaikan masalah defisit ini sebagaimana arahan presiden," ungkap Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris kepada CNNIndonesia.com, Minggu (1/12).
Ia mengakui kalau BPJS Kesehatan sebagai lembaga yang juga bertanggungjawab agar operasional dari program JKN bisa berlangsung dengan baik. Sebab, jika defisit terus membengkak, maka bukan tidak mungkin program itu jadi terganggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Jokowi kembali melakukan sidak ke layanan BPJS di RSUD Subang pada Jumat (29/11) kemarin. Dari agenda itu, ia menyatakan defisit BPJS Kesehatan tidak disebabkan oleh rumah sakit maupun masyarakat.
Menurut dia, BPJS Kesehatan harus mampu mengendalikan defisit, mengingat anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk membantu eks PT Askes (Persero) ini sudah besar.
Dalam sidak layanan BPJS tersebut, Jokowi menyebut hampir 90 persen pasien yang ditemui menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Sementara, 70 persen di antaranya merupakan masyarakat Penerima Bantuan Iuran (PBI), dan 20 persen sisanya adalah peserta mandiri.
"Sama seperti yang di Lampung, kurang lebih angkanya hampir-hampir sama. Artinya apa? Artinya, memang masyarakat memanfaatkan kartu BPJS itu dalam rangka pelayanan kesehatan yang diberikan di rumah sakit," terang Jokowi.
Informasi saja, ini bukan pertama kalinya Jokowi melakukan sidak ke rumah sakit. Jokowi sempat berkunjung ke Provinsi Lampung, Jumat (15/11) lalu untuk mengecek RSUD Dr H Abdul Moeloek di Kota Bandar Lampung.
[Gambas:Video CNN] (aud/osc)